Pengadaan KM Aceh Hebat Dan Kemiskinan Di Aceh Pantaskah.?!?

  • Bagikan

Banda Aceh – Di tengah keprihatian atas meningkatnya angka kemiskinan di Aceh mencapai sebesar 15,43 % (tertinggi di Sumatera), Pemerintah Provinsi Aceh dibawah kepemimpinan Gubernur Nova Iriansyah, mencanangkan Mega Proyek pengadaan 3 unit Kapal Ro-Ro dengan nama Aceh Hebat 1, 2 dan 3. Mencapai ratusan miliar.

Pembuatan kapal Ro-Ro pesanan Pemerintah Aceh, dilaksanakan di tiga tempat yaitu Kapal Penumpang Ferry Ro-Ro 600 GT untuk Lintas Singkil – Pulau Banyak dibangun oleh Galangan PT. Citra Bahari Shipyard, Kapal Penumpang Ferry Ro-Ro 1100 GT Lintas Ulee Lheue – Balohan dibangun oleh Galangan PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia, Kapal Penumpang Ferry Ro-Ro 1300 GT Lintas Pantai Barat – Simeulue dibangun oleh Galangan PT. Multi Ocean Shipyard.

Menurut sumber yang dipercaya bahwa biaya keseluruhan untuk pembuatan kapal Ro-Ro pesanan Pemerintah Provinsi Aceh sebesar 378 Milyar rupiah.

Di lain sisi, Aceh memang membutuhkan alat transportasi laut, guna mempercepat laju pertumbuhan ekonomi Aceh, tetapi yang menjadi ironi, apa yang hendak dipercepat ketika sektor ekonomi riil mati suri.

Muncul pula dugaan, apakah perencanaan pembangunan berorientasi pada kepentingan penguasa, demi pencitraan dan mudah untuk mengambil keuntungan dari proyek yang diagendakan.

Sebagai contoh yang baru saja dipamerkan oleh Gubernur Aceh soal pengadaan 3 Kapal Ro-Ro dengan dana yang besar, namun patut dicurigai karena proses lelang dengan mekanisme PL.

Sementara itu proses pembuatan KM Aceh Hebat 1 berkapasitas 1.300 GT dikerjakan oleh PT Multi Ocean Shipyard pesanan Pemerintah Aceh dengan waktu yang fantastis singkat 10 bulan dengan harga 178 Milyar, jika dibandingkan dengan pesanan pemerintah pusat untuk Pemda Ambon, di perusahaan galangan kapal yang sama PT Multi Ocean Shipyard 1 unit KM Ro-Ro 1.500 GT selesai dalam waktu 22 bulan dengan harga 99 Milyar.

Mencermati perbedaan waktu yang signifikan dalam pembuatan kapal Ro- Ro dengan bobot yang sama, patut diduga KM Aceh Hebat 1 tidak baru, tetapi barang bekas, termasuk genset bekas import dari china.

Kemudian harga kapal Ro-Ro kapasitas 1300 GT pesanan Pemerintah Aceh lebih mahal dari kapal Ro-Ro dengan kapasitas 1.500 GT pesanan Pemerintah Pusat.

Sebagai pembanding lain adalah Perusahaan pelayaran nasional Agung Line melakukan peremajaan armadanya dengan menganggarkan 70 Milyar untuk membeli 2 unit kapal Ro-Ro.

Perbedaan harga yang cukup signifikan, patut diduga adanya mark-up dalam pengadaan KM Aceh Hebat 1,2,3. Beberapa aspek dalam proses pengadaan 3 Unit KM Aceh Hebat yang nampaknya penuh kejanggalan, pihak penegak hukum perlu turun tangan untuk mengungkap kejanggalan tersebut, apalagi proses lelang dilakukan melalui mekanisme PL.

Sri Radjasa Chandra
Pemerhati tentang Aceh yang berdomisili di Jakarta, saat ini aktif menyorot kebijakan Pemerintah Aceh

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *