Oknum Kades Bergaya Preman Dan Ala Koboy, Ancam Bantai Wartawan

  • Bagikan

Bandar Lampung, – Oknum Kepala Desa (Kades) di Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung bergaya koboy ketika akan dikonfirmasi wartawan atas dugaan perampasan upah buruh tukang mengalirkan air ke sawah (petugas ili-ili) justru ancam akan bantai wartawan.

Ancaman oknum kades itu diungkapkannya ketika sejumlah awak media yang mendapatkan pengaduan dari salah seorang buruh tukang mengalirkan air ke sawah (petugas ili-ili) hendak melakukan konfirmasi terkait dengan kebenaran atas aduan tersebut, Sabtu (8/5/).

Oknum kades yang hendak dikonfirmasi dikedimannya itu Langsung merespon negatif atas kedatangan Wartawan, selanjutnya Oknum Kades tersebut malah justru mengumpulkan warganya (massa) dan mengancam akan membantai wartawan yang datang dirumahnya pada hari itu.

“Saya gak urus kamu mau wartawan, LSM, media kek saya gak ada urusan, kamu sudah ngurusin desa saya. Jadi kalau macam-macam kita bantai di sini,” ujar oknum kades sambil menunjuk-nunjuk wartawan.

Sebelumnya, Supriono salah seorang petugas ili-ili, menyampaikan keluhannya, terkait dengan upah kerja yang dia terima dan diberikan oleh petani kepadanya sejak dari tahun 2020 lalu.

Kepala Desa Bagelen memanggil dirinya untuk datang ke kantor desa.

Setelah dia (Supriyono) bertemu dengan Kades Bagelen, (Merdi)dia diminta untuk membantu membeli peralatan kantor, salah satunya printer seharga Rp1.500.000 yang pada saat itu meskipun dengan sangat terpaksa akhirnya Supriono memberikan uang tersebut.

Lalu pada saat panen kedua tepatnya di akhir tahun 2020 lalu, oknum kades itu kembali mengutus seseorang untuk meminta uang lagi sebesar Rp1.500.000 melalui Iwan selaku operator desa setempat.

Namun karena Iwan belum sempat dia (Iwan) meminta saudaranya yang bernama Soleh untuk meminta uang itu kepada Supriono, dan pada awal tahun 2021 hal itu kembali terulang, akan tetapi kali ini bukan berupa uang yang di ambil dari Supriyono melainkan padi.

Menurut Supriono, untuk yang kali ini oknum kades tersebut mengambil padi sebanyak 17 karung.

Dari jumlah 17 karang itu diambil oleh orang suruhannya, kades itu dengan dua kali pengambilan, yang pertama diambil sebanyak 8 karung dan yang kedua sebanyak 9 karung.

“Saya dengan sangat terpaksa memberikan apa yang kades minta, karena saya enggak tahan selalu di tanya hasil upah mengalirkan air ke sawah. Saya enggak rela dan enggak ikhlas hasil keringat saya di ambil,” keluh Supriono.

Untuk mengetahui kebenaran dari informasi itu Awak Media mencoba untuk melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.

Namun respon yang bersangkutan (Kades) yang seharusnya menjadi sebagai panutan di desa itu justru sebaliknya, serta merta mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas sebagai kades, dengan gaya ala preman atau coboy.

Justru oknum kades tersebut bergaya coboy dan melecehkan, dan mencerca profesi wartawan selaku pekerja sosial kontral yang jelas di lindungi oleh Undang-undang Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999. Yang di dalamnya jelas dituangkan bahwa tugas seorang jurnalis atau wartawan berhak mencari, mengumpulkan, memilih, mengolah berita dan menyajikan kepada masyarakat luas melalui media massa.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *