Moralitas Pemimpin Dan Aceh

  • Whatsapp

Banda Aceh, – Umar bin Khattab Sang Khalifah yang dijuluki Amirul Mukminin serta sudah mendapat jaminan surga, selalu diliputi kegundahan bahkan hingga meneteskan air mata ketika mengingat tanggung jawab atas rasa keadilan dan kesejahteraan rakyatnya.

Sebagai bentuk konsekuensi dari kedudukannya sebagai pemimpin, Umar yang seharusnya bisa tidur diatas kasur yang empuk ditengah malam yang dingin, justru menggunakan waktu malam untuk berkeliling ke pelosok Madinah, untuk mengetahui kondisi rakyatnya jangan sampai ada yang kelaparan.

Bacaan Lainnya

Umar bin Khattab adalah potret pemimpin yang melayani dan responsif terhadap persoalan rakyatnya.

Tidak dapat dipungkiri Umar bin Khattab adalah sosok pemimpin yang kepemimpinannya memiliki kriteria Siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (senantiasa menyampaikan kebenaran).

Kepemimpinan Umar bin Khattab adalah sebuah harapan yang terkubur dalam mimpi kita tanpa berharap menjadi realita, jika dihadapkan pada sosok pemimpin Aceh hari ini.

Rasanya tidak berlebihan ketika rakyat Aceh berharap kesejahteraan dan kemakmuran, mengingat wilayah Aceh yang subur dan kaya akan sumber alam serta status keistimewaannya dimanjakan oleh limpahan dana dari Pemerintah Pusat.

Tetapi hingga saat ini, Aceh terus memegang reputasi sebagai daerah dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi.

Di mana sesungguhnya letak kekeliruan pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang melimpah, sehingga “kue pembangunan” tidak dapat dinikmati rakyat Aceh.

Inilah saatnya untuk tidak boleh takut untuk menyampaikan kejujuran demi menyingkap tabir gelap tentang titik lemah pengelolaan sumber ekonomi di Aceh.

Sesungguhnya pokok kekisruhan yang membuat Aceh salah urus dan berdampak kepada ketidakmampuan rakyat bangkit dari keterpurukan yang akut, adalah kepemimpinan Aceh yang sama sekali tidak memiliki mental dan moral pemimpin.

Sang pemimpin telah berubah menjadi monster menakutkan yang mampu tertawa dihadapan kesulitan rakyat.

Lebih menyakitkan lagi, ketika kehadiran sang pemimpin dibutuhkan ditengah kemelut persoalan rakyatnya, tapi sang pemimpin lebih memilih pergi demi memuaskan hobi nya bersepada dan pamer motor besar.

Nauzubilahminzaliq, apalagi yang harus dihormati dari pemimpin seperti ini. Apakah masih patut disebut pemimpin, jika kepemimpinannya tidak pernah dirasakan rakyat.

Kita mengingat bagaimana sebuah kutipan dari sabda manusia yang mulia Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, “Ada satu hal yang Aku sangat gundah akan menimpa atas kalian selain dari dajjal, melebihi jahilnya dajjal yaitu pemimpin yang sesat lagi menyesatkan”.

Apa yang digundahkan oleh Rasulullah sekian ribu tahun lalu, barangkali sedang berlangsung di Aceh. Bagi rakyat Aceh ada hikmah yang dapat dijadikan pelajaran, ketika tiba saatnya menghadapi dajjal tidak ada lagi rasa gentar, mengingat pengalaman menghadapi pemimpin yang jahilnya hampir melebihi dajjal.

Sebagai penutup, izinkan penulis mengutip sebuah hadist yang datang dari sahabat Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”

Sri Radjasa Chandra

Pemerhati yang berdomisili di Jakarta dan aktif menyorot isu-isu tentang Aceh

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *