Dihargai 60 Ribu Perbulan, Nelayan Minta Mitra Timah Hengkang Dari Laut Kundur

  • Bagikan
Foto : Ilustrasi

Karimun– Kehadiran Mitra Timah, berupa Kapal Hisap Timah Swasta, yang selama ini melakukan kerja-sama dengan PT. Timah.Tbk Perusahaan BUMN, yang melakukan Penambangan Timah diseputaran laut Desa Kundur, dinilai oleh banyak kalangan para nelayan dianggap tidak jelas, kehadiran Kapal Mitra Timah, bukan menjadikan para nelayan makin tumbuh maju dan berkembang, serta terbantu perekonomian mereka, justru sebaliknya warga masyarakat nelayan lebih menjadi sebagai penonton.

Sementara hasil penambangan timah telah menghilangkan mata pencaharian para nelayan, sangat berkurangnya tangkapan ikan, menjadikan warga nelayan makin terperosok didalam kemiskinan, sementara para nelayan hanya dihargai antara Rp. 50 s/d Rp. 60 Ribu Per Bulan.

Demikian dikatakan Hendrik Ketua RT. 01 RW. 09 Dusun Mukalimus, didampingi beberapa rekannya menjawab wartawan beberapa waktu yang lalu, menurut Hendrik, sebagai nelayan dari Ring C, Kelurahan Sawang, sebagai Kelurahan yang tidak berpenghasil tapi berdampak, diakui oleh dirinya ( Hendrik-Red. ) dana Konvensasi yang diterima oleh para nelayan Kelurahan Sawang, beda dengan Para nelayan yang berada di Ring B maupun Ring A, karena memang para nelayang pernah melakukan kesepakatan bersama, dimana terhadap Mitra Timah yang masuk beraktifitas di Titik Koordinat Masing-Masing Desa, berarti Desa yang menjadi Ring A, yang berada diwilayah Titik Koordinat, mendapatkan dana Konvensasi lebih dari Desa dan atau Kelurahan lain.” Kata Hendrik.

Sungguhpun termasuk Kelurahan Dengan Ring C, dan Kapal Mitra Timah berada di Desa Kundur, apa wajar nelayan Kelurahan Sawang dihargai dengan uang konvensasi sebesar Rp. 50 hingga Rp. 60 Ribu per bulan, sementara keuntungan penambangan timah ratusan miliar Per Bulan,” jelas Hendrik.

Sewajarnya selaku Ketua Kelompok Nelayan Kelurahan Sawang, saudara Utai tidak boleh terlalu gampang menerima Dana Konvensasi dari Mitra Timah melalui Pengurus lapangan saudara Zahir, mantan pensiunan PT. Timah, apa Saudara Utai tidak memahami, dengan uang yang dihargai sebesar Rp. 50 Hingga Rp. 60 Ribu dan dibagikan kepada anggota nelayan, sebanding dengan pengerusakan laut dan hasil Timah yang diambil,” jelas Hendrik yang diamini rekan-rekannya.

Kami menghormati saudara Utai selaku Ketua Kelompok Nelayan Kelurahan Sawang, tetapi saudara utai juga harus menghargai kami, jangan kita para nelayan “dibodoh-bodohi” oleh Mitra Timah, hanya dihargai Rp. 60 Ribu, dan apa yang dapat dibeli dengan uang sebanyak itu.” Ucap Hendrik kesal.

Ditempat terpisah, Karim warga Mukalimus Sawang ketika dijumpai Viralutama, menyatakan warga nelayan sudah terlalu baik, tapi jangan di injak-injak,” ungkap Karim.

Lebih jauh menurut Karim, untuk kedepannya, terhadap Kapal Hisap Mitra Timah yang berencana masuk ketitik Koordinat Wilayah Laut Kundur, Kobil maupun Sawang, nelayan minta mereka dihargai untuk dana Konvensasi minimal Rp. 500 Ribu Per Bulan untuk Per KK, Ketua Kelompok nelayan jangan mengambil kebijakan sebelum mengadakan rapat dengan anggota, begitu juga terhadap masyarakat pesisir yang tinggal di seputaran pantai, mereka juga berhak menerima dana Konvensasi, karena laut bukan hanya milik nelayan,” jelas Karim.

Kepada para pengurus Kapal Hisap Mitra Timah, sangat dihimbau untuk tidak mencari keuntungan bagi sekelompok pihak tertentu, karena selaku nelayan kami menyerahkan kepercayaan kepada anda-anda, tolong anda jaga kepercayaan Anggota.

Penulis : Azwan, Z. SH

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *